MODEL
PENJADWALAN PADA FLOWSHOP-4-STAGE DENGAN
KRITERIA
MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM
DAN
JUMLAH TARDY JOBS
Alex
Saleh, Emsosfi Zaini
Fakultas Teknik
Industri, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Nasional
Jl. PHH Mustofa No.
23, Bandung 40124
Email:
alexaldjaidi@yahoo.com, sosfiez@yahoo.com
ABSTRAK
Penelitian ini membahas model
penjadwalan job pada flowshop-4-stage untuk proses
fabrikasi dan
perakitan. Setiap job terdiri
dari 1 unique component dan 1 common component, keduanya diproses
pada tiga mesin pertama secara serial dan dirakit pada mesin keempat. Unique
component diproses satu per satu sedangkan common component diproses
dalam batch dengan waktu setup yang konstan untuk setiap batch.
Kriteria yang digunakan adalah
minimisasi lateness maksimum dan jumlah tardy jobs. Pengembangan
model dilakukan untuk
mengakomodasi adanya job yang terlambat. Algoritma dimulai dengan proses
penjadwalan job dengan
menggunakan aturan earliest due date (EDD) untuk mesin tunggal, dan
proses
batching dengan menggunakan pemrograman
dinamis. Jumlah tardy jobs diperbaiki dengan Algoritma
Hodgson. Algoritma yang diusulkan
bukan merupakan algoritma optimal karena proses penjadwalan yang
tidak dijamin optimal, meskipun
proses batching dapat menghasilkan solusi optimal. Penelitian ini
dilengkapi dengan contoh numerik untuk menunjukkan perilaku model.
I. PENDAHULUAN
Banyak
pembahasan tentang penjadwalan job
pada sistem produksi flow shop
diantaranya :
-
Tansel,
Xiao dan Li. Dalam pembahasannya mengenai penentuan urutan (sequencing) tanpa memperhitungkan ukuranbatch.
-
Cheng
dan Wang, Halim dan Cahya dan Bukchin menggabungkan antara sequencing dan batching
menggunakan criteria meminimalkan makespan.
-
Indrapriyatna
meminimalkan total biaya simpan dan biaya kualitas.
Tetapi ketiga
penelitian diatas tidak mempertimbangkan masalah penjadwalan untuk perakitan.
Seringkali suatu perusahaan menerima job
yang merupakan suatu rakitan dari beberapa komponen. Komponen tersebut bisa
terdiri dari komponen yang sama (common
component) atau komponen yang berbeda (unique
component).
Cheng dan Wang
mengajukan model penjadwalan untuk fabrikasi dan perakitan komponen pada flowshop-2-stage untuk meminimalkan makespan. Model tersebut akan efektif apabila
saat penyerahan (due date) job
sama, tetapi tidak akan efektif apabila due
date setiap job berbeda.
Contohnya adalah meminimalkan total waktu tinggal actual, mean lateness, ,mean tardiness, lateness maksimum dan jumlah tardy jobs dan telah dikembangkan oleh
Halim dan Saleh.
Dalam prakteknya
sistem manufaktur flowshop bisa terdiri atas lebih dari 2 mesin.
2. METODE
PENELITIAN
2.1 Pengembangan
Model
Sistem
manufaktur yang dibahas pada penelitian ini merupakan sistem manufaktur flowshop
yang terdiri dari 4 mesin dan
menjalankan kegiatan fabrikasi dan perakitan. Kriteria evaluasi dari
model yang
dikembangkan adalah meminimalkan lateness maksimum dan jumlah tardy
jobs. Produk yang diproses terdiri atas satu unit unique component dan
satu unit common component.
Unique component
dan
common component diproses pada tiga mesin pertama secara serial. Unique
component diproses satu per satu, sedangkan common component diproses
dalam batch dan setup dilakukan untuk setiap batch dengan
waktu setup batch konstan. Proses perakitan dilakukan pada mesin keempat
dan hanya bisa dilakukan ketika kedua komponen tersedia. Proses fabrikasi common
component dilakukan dengan cara batch availability, yaitu semua common
component di dalam batch tersedia untuk dirakit hanya bila seluruh
komponen dalam batch selesai diproses. Gambaran sistem produksi pada flowshop-4-stage
dapat dilihat pada Gambar 1.
Pada Mesin 1, 2 dan 3 merupakan
Proses fabrikasi ui dan ci sedangkan Mesin 4 merupakan Proses
Perakitan
![]() |
|||||||
![]() |
![]() |
||||||
![]() |
|||||||
2.2 Persamaan
Umum Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax)
Persamaan umum
untuk mendapatkan completion time Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax) menggunakan
diagram Gantt chart. Setelah
menghitung completion time di setiap
mesin kemudian menghitung lateness maksimum
untuk setiap job.
2.3 Algoritma
Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax)
Selanjutnya
adalah menyusun algoritma penjadwalan untuk fabrikasi dan perakitan pada flowshop-4-stage.
Algoritma disusun untuk menentukan urutan pengerjaan job, ukuran dan
jumlah batch. Urutan pengerjaan job disusun berdasarkan earliest
due date (EDD). Sedangkan penentuan ukuran dan jumlah batch dilakukan
dengan mengikuti pendekatan yang dilakukan oleh Cheng dan Wang (1999),
penjadwalan dilakukan dalam horizon perencanaan tertentu.
2.4 Persamaan
Umum Model (F4/(c,ui,ai),ba/ΣT)
Dalam
penghitungannya ditemukan 4 persamaan, tetapi perbedaannya terletak pada
penambahan subscript. Penambahan ini
bertujuan mengakomodasi pertukaran urutan
job untuk criteria minimisasi
jumlah tardy jobs.
3. HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1 Pengujian
Model dan Analisis
Untuk mengetahui
performansi model yang dikembangkan, dilakukan pengujian model yang terdiri
dari dua tahap. Tahap pertama adalah menguji model untuk melihat cara kerja
model dalam hal melakukan penjadwalan yang menghasilkan lateness maksimum
yang minimum. Tahap kedua adalah menguji perilaku model yang dikembangkan
dengan menggunakan beberapa nilai parameter yang berbeda, yaitu nilai waktu set
up dan waktu proses common component.
3.2 Pengujian
Tahap 1
Pada tahap
pertama, pengujian dilakukan untuk melihat cara kerja Model disusun dengan
membangkitkan secara random data waktu proses common component, waktu
proses unique component, waktu operasi perakitan dan data waktu setup
pada nilai interval dan data due date
yang dibangkitkan.
3.3 Pengujian
Tahap 2
Pada tahap
kedua, pengujian perilaku model dilakukan dengan cara mengubah nilai-nilai
parameter berbeda terhadap nilai waktu setup dan waktu proses common
component. Pengujian
tahap kedua ini
disusun ke dalam 3 skenario, yaitu :
-
Pada
Skenario 1, akan dilakukan pengujian untuk melihat perilaku model terhadap perubahan
nilai waktu setup. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
kenaikan waktu setup terhadap jumlah batch dan nilai lateness maksimum.
Yang berbeda adalah variasi waktu
setup nya.
-
Pada
Skenario 2, akan dilakukan pengujian untuk melihat perilaku model terhadap perubahan
nilai waktu proses common component. Pengujian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh kenaikan waktu proses common component terhadap
jumlah batch dan nilai lateness maksimum . yang berbeda adalah
variasi waktu proses common component-nya.
-
Pada
Skenario 3, akan dilakukan pengujian untuk melihat perilaku model terhadap
kenaikan jumlah job. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh kenaikan jumlah job terhadap jumlah batch dan nilai lateness
maksimum.
Pengujian model
dilakukan dengan menggunakan program bantu Visual Basic Application
(VBA) for Excel dan
dijalan pada Personal Computer Intel Pentium Core Duo dengan RAM 1
GB pada sistem Microsoft
Window XP.
4. KESIMPULAN
Model
penjadwalan job pada flowshop-4-stage untuk proses
fabrikasi dan perakitan yang dikembangkan pada penelitian ini bekerja dalam dua
tahap yaitu proses sequencing dan proses batching. Algoritma yang
diusulkan bukan merupakan algoritma optimal karena proses penjadwalan yang
tidak dijamin optimal, meskipun proses batching dapat menghasilkan
ukuran batch optimal. Model yang diusulkan tidak bisa dibandingkan
dengan model lain karena model yang telah ada mempunyai karakteristik tidak
komparatif. Perilaku model menunjukkan sifat sebagai berikut:
jika waktu setup diperbesar, maka
jumlah batch makin kecil. Selain itu, jika waktu proses common
component diperbesar, maka jumlah batch makin besar dan jika jumlah job
makin besar, maka jumlah batch makin besar.
Pengembangan
yang dapat dilakukan berbasis penelitian ini adalah pengembangan model untuk flowshop
mesin. Pengembangan yang mengakomodasi kondisi sebuah produk terdiri lebih
dari 1 unit common component dan 1 unit unique component; dan
pengembangan terhadap metode pemecahan masalah menggunakan algoritma
metaheuristik seperti algoritma genetik, simulated annealing dan greedy
randomized adaptive search procedure (GRASP).
DAFTAR PUSTAKA
Bukchin, J.,
Tzur, M., and Jaffe, M., 2002. “Lot Splitting to Minimize Average Flow-Time in
a
Two-Machine
Flow-Shop.” IIE Transactions, Vol. 34, pp. 953–970.
Chan, D., and
Bedworth, D. D., 1990. “Design of Scheduling Systems for Flexible Manufacturing
Cells.” International
Journal of Production Research, Vol. 28, pp. 2037– 2049.
Cheng, T. C. E.,
and Wang, G., 1998. “Batching and Scheduling to Minimize the Makespan in the
Two Machine
Flowshop.” IIE Transactions, Vol. 30, pp. 447-453.
Cheng, T. C. E.,
and Wang, G., 1999. “Scheduling the Fabrication and Assembly of Components
in a Two-Machine
Flowshop.” IIE Transactions, Vol. 31, pp. 135-143.
Halim, A. H.,
dan Cahya, B. I., 1999. “Model Overlapping pada Flowshop-4-Stage
yang
Memproses
Multi-Item.” Proceeding Seminar Sistem Produksi IV, Bandung.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar