Tata Tulis Karya Ilmiah
Selasa, 16 Juli 2013
artikel menarik, inspiratif dan bermutu
yukz kita lihat artikel dibawah ini simak dengan baik dan pastinya menyenagkan untuk dikaji....
Telur Asin citarasa Khas, Unik dan Lezat
TELUR ASIN BREBES
YANG MEMBAHANA
Brebes
adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah
1.657,73 km2. Kecamatan Brebes berada di ujung timur laut
KabupatenBrebes yang terletak di daerah pantai utara yang berbatasan langsung dengan
Laut Jawa, sekaligus sebagai ibukota kabupaten. Nama Brebes sendiri memiliki
arti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak mengandung air. Karena daerahnya yang sangat mudah ditanami
berbagai tumbuhan, Brebes dikenal sebagai penghasil bawang merah yang mudah
ditemukan disepanjang jalan kota. Selain itu Brebes juga dikenal dengan telur
asin khas yang sudah fenomenal dan membahana. Telur asin khas dari Brebes ini
memang berbeda dalam hal rasa, karena rasanya lebih manis dan gurih. Telur
asin Brebes dipanen dari bebek-bebek unggul yang diberi makanan berkualitas dan
pemeliharaannya melalui proses penggembalaan. Para penjaja telur asin daerah
Brebes pun tidak hanya menjajakan telur asin rebus saja. Variasinya banyak
mulai dari telur asin panggang atau pindang, bisa asin ataupun tawar. Telur
asin yang menjadi unggulan di kota Brebes adalah Telur bebek pangon. Telur
pangon adalah telur asin rebus yang telurnya dihasilkan oleh bebek yang hanya
diangon (digembalakan). Bebek-bebek ini mengambil makanan dari alam sehingga
pakannya pun sangat variatif, mulai dari padi, biji-bijian, cacing, hingga
serangga. Karena hidupnya di sawah, bebek pun bertelur di sawah, bukan di
kandang. Telur pangon memiliki rasa lebih gurih dan enak. Jika diasinkan,
bagian kuning telur terlihat masir dan berminyak.
Pengolahan yang
baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan rasa yang pas membutuhkan
proses sekitar 15 hari. Biasanya, telur-telur bebek yang datang langsung
dibersihkan agar terbebas penyakit. Namun yang paling penting adalah adonannya.
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk adonan telur asin adalah bata merah, abu,
garam, dan air. Menurut Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS, ada dua cara untuk
mengasinkan telur itik. Pertama dengan merendamnya dalam larutan garam.
Awalnya, kulit telur diamplas supaya pori-porinya lebih terbuka. Setelah itu
direndam dalam larutan garam 3-7 hari tergantung keasinan yang dikehendaki.
Namun, proses ini memiliki kelemahan, telur hanya berasa asin, tetapi kurang
baik keawetannya. Cara kedua lebih baik, yaitu dengan menggunakan media garam.
Cara ini akan menghasilkan cita rasa yang lebih lezat dan warna lebih bagus.
“Media garam ini adalah campuran garam, abu gosok, serbuk bata merah dan kadang
dicampur sedikit kapur, lalu diberi air. Selanjutnya adonan ini dicampur, dan
digunakan untuk membungkus telur dan disimpan di dalam guci, didiamkan seminggu.
Garam memang memiliki fungsi untuk menciptakan rasa asin sekaligus sebagai
bahan pengawet, karena menyerap air dalam telur. “Prinsip pengawetan adalah makin
tinggi kadar air, makin tidak awet. Makin rendah air, makin awet”. Begitu juga
dengan telur itik yang diasinkan, ada proses keluar masuk air dan garam pada
telur. Garam akan masuk dalam pori-pori kulit telur menuju ke putih telur, lalu
ke kuning telur. Selanjutnya, garam akan menarik air yang dikandung telur.
Ditambah lagi, ion chlor yang ada di dalam garam akan berperan sebagai
penghambat pertumbuhan bakteri dalam telur. Hasilnya, telur akan awet dan
bakteri di dalamnya mati.
Kandungan Di
dalam telur itik, protein banyak terkandung dalam kuning telur sebanyak 17 %,
dan pada putih telur 11 %. Protein telur ini mengandung asam amino esensial
yang diperlukan tubuh untuk hidup sehat. Jumlah dan komposisi asam amino pada
telur sangat lengkap dan berimbang, sehingga dapat digunakan untuk pertumbuhan
juga pergantian sel yang rusak. Begitu juga dengan kandungan lemak, hampir
semua lemak dalam sebutir telur itik terdapat dalam kuning telurnya. Lemak pada
telur ini terdiri dari trigliserida,
fosfolipida, dan kolesterol. Fungsinya tentu sebagai sumber energi. Lemak
dalam telur tergabung dengan air sehingga lebih mudah dicerna. Selain itu
bagian kuningnya juga mengandung hampir semua vitamin, kecuali vitamin C. Telur
juga mengandung sumber mineral serta vitamin D alami kedua terbesar setelah
minyak hati ikan hiu. Mineral penting juga terkandung dalam telur di antaranya
adalah besi, fosfor, kalsium, tembaga, iodium, magnesium, mangan, kalium,
natrium, seng, klorida, dan sulfur. Mitos yang berkembang dan ditakuti oleh banyak
orang, telur sering dikaitkan dengan kolesterol dan penyakit jantung. Padahal
kolesterol lebih terpengaruh oleh pola makan sehari-hari, bukan jenis makanan
tertentu. “Dengan perbandingan kandungan kolesterol telur dan kebutuhan
kolesterol tubuh kita per hari, jika kondisi kolesterol kita normal, makan
telur asin pun tidak masalah”. Kandungan kolesterol dalam telur sekitar 200 mg
per butir, sedangkan kebutuhan kolesterol manusia berkisar 1000-1500 mg per
hari. Kolesterol juga dibutuhkan untuk pembentukan hormon steroid yaitu
progesteron, estrogen, testosteron, dan kortison. Hormon ini berfungsi untuk
mengatur fungsi dan aktivitas biologis tubuh. Jika kolesterol kurang, dapat
mengganggu kesuburan dan menyebabkan kemandulan pada pria maupun wanita.
Rangkuman Jurnal (Alex Saleh, Emsosfi Zaini)
MODEL
PENJADWALAN PADA FLOWSHOP-4-STAGE DENGAN
KRITERIA
MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM
DAN
JUMLAH TARDY JOBS
Alex
Saleh, Emsosfi Zaini
Fakultas Teknik
Industri, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Nasional
Jl. PHH Mustofa No.
23, Bandung 40124
Email:
alexaldjaidi@yahoo.com, sosfiez@yahoo.com
ABSTRAK
Penelitian ini membahas model
penjadwalan job pada flowshop-4-stage untuk proses
fabrikasi dan
perakitan. Setiap job terdiri
dari 1 unique component dan 1 common component, keduanya diproses
pada tiga mesin pertama secara serial dan dirakit pada mesin keempat. Unique
component diproses satu per satu sedangkan common component diproses
dalam batch dengan waktu setup yang konstan untuk setiap batch.
Kriteria yang digunakan adalah
minimisasi lateness maksimum dan jumlah tardy jobs. Pengembangan
model dilakukan untuk
mengakomodasi adanya job yang terlambat. Algoritma dimulai dengan proses
penjadwalan job dengan
menggunakan aturan earliest due date (EDD) untuk mesin tunggal, dan
proses
batching dengan menggunakan pemrograman
dinamis. Jumlah tardy jobs diperbaiki dengan Algoritma
Hodgson. Algoritma yang diusulkan
bukan merupakan algoritma optimal karena proses penjadwalan yang
tidak dijamin optimal, meskipun
proses batching dapat menghasilkan solusi optimal. Penelitian ini
dilengkapi dengan contoh numerik untuk menunjukkan perilaku model.
I. PENDAHULUAN
Banyak
pembahasan tentang penjadwalan job
pada sistem produksi flow shop
diantaranya :
-
Tansel,
Xiao dan Li. Dalam pembahasannya mengenai penentuan urutan (sequencing) tanpa memperhitungkan ukuranbatch.
-
Cheng
dan Wang, Halim dan Cahya dan Bukchin menggabungkan antara sequencing dan batching
menggunakan criteria meminimalkan makespan.
-
Indrapriyatna
meminimalkan total biaya simpan dan biaya kualitas.
Tetapi ketiga
penelitian diatas tidak mempertimbangkan masalah penjadwalan untuk perakitan.
Seringkali suatu perusahaan menerima job
yang merupakan suatu rakitan dari beberapa komponen. Komponen tersebut bisa
terdiri dari komponen yang sama (common
component) atau komponen yang berbeda (unique
component).
Cheng dan Wang
mengajukan model penjadwalan untuk fabrikasi dan perakitan komponen pada flowshop-2-stage untuk meminimalkan makespan. Model tersebut akan efektif apabila
saat penyerahan (due date) job
sama, tetapi tidak akan efektif apabila due
date setiap job berbeda.
Contohnya adalah meminimalkan total waktu tinggal actual, mean lateness, ,mean tardiness, lateness maksimum dan jumlah tardy jobs dan telah dikembangkan oleh
Halim dan Saleh.
Dalam prakteknya
sistem manufaktur flowshop bisa terdiri atas lebih dari 2 mesin.
2. METODE
PENELITIAN
2.1 Pengembangan
Model
Sistem
manufaktur yang dibahas pada penelitian ini merupakan sistem manufaktur flowshop
yang terdiri dari 4 mesin dan
menjalankan kegiatan fabrikasi dan perakitan. Kriteria evaluasi dari
model yang
dikembangkan adalah meminimalkan lateness maksimum dan jumlah tardy
jobs. Produk yang diproses terdiri atas satu unit unique component dan
satu unit common component.
Unique component
dan
common component diproses pada tiga mesin pertama secara serial. Unique
component diproses satu per satu, sedangkan common component diproses
dalam batch dan setup dilakukan untuk setiap batch dengan
waktu setup batch konstan. Proses perakitan dilakukan pada mesin keempat
dan hanya bisa dilakukan ketika kedua komponen tersedia. Proses fabrikasi common
component dilakukan dengan cara batch availability, yaitu semua common
component di dalam batch tersedia untuk dirakit hanya bila seluruh
komponen dalam batch selesai diproses. Gambaran sistem produksi pada flowshop-4-stage
dapat dilihat pada Gambar 1.
Pada Mesin 1, 2 dan 3 merupakan
Proses fabrikasi ui dan ci sedangkan Mesin 4 merupakan Proses
Perakitan
![]() |
|||||||
![]() |
![]() |
||||||
![]() |
|||||||
2.2 Persamaan
Umum Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax)
Persamaan umum
untuk mendapatkan completion time Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax) menggunakan
diagram Gantt chart. Setelah
menghitung completion time di setiap
mesin kemudian menghitung lateness maksimum
untuk setiap job.
2.3 Algoritma
Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax)
Selanjutnya
adalah menyusun algoritma penjadwalan untuk fabrikasi dan perakitan pada flowshop-4-stage.
Algoritma disusun untuk menentukan urutan pengerjaan job, ukuran dan
jumlah batch. Urutan pengerjaan job disusun berdasarkan earliest
due date (EDD). Sedangkan penentuan ukuran dan jumlah batch dilakukan
dengan mengikuti pendekatan yang dilakukan oleh Cheng dan Wang (1999),
penjadwalan dilakukan dalam horizon perencanaan tertentu.
2.4 Persamaan
Umum Model (F4/(c,ui,ai),ba/ΣT)
Dalam
penghitungannya ditemukan 4 persamaan, tetapi perbedaannya terletak pada
penambahan subscript. Penambahan ini
bertujuan mengakomodasi pertukaran urutan
job untuk criteria minimisasi
jumlah tardy jobs.
3. HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1 Pengujian
Model dan Analisis
Untuk mengetahui
performansi model yang dikembangkan, dilakukan pengujian model yang terdiri
dari dua tahap. Tahap pertama adalah menguji model untuk melihat cara kerja
model dalam hal melakukan penjadwalan yang menghasilkan lateness maksimum
yang minimum. Tahap kedua adalah menguji perilaku model yang dikembangkan
dengan menggunakan beberapa nilai parameter yang berbeda, yaitu nilai waktu set
up dan waktu proses common component.
3.2 Pengujian
Tahap 1
Pada tahap
pertama, pengujian dilakukan untuk melihat cara kerja Model disusun dengan
membangkitkan secara random data waktu proses common component, waktu
proses unique component, waktu operasi perakitan dan data waktu setup
pada nilai interval dan data due date
yang dibangkitkan.
3.3 Pengujian
Tahap 2
Pada tahap
kedua, pengujian perilaku model dilakukan dengan cara mengubah nilai-nilai
parameter berbeda terhadap nilai waktu setup dan waktu proses common
component. Pengujian
tahap kedua ini
disusun ke dalam 3 skenario, yaitu :
-
Pada
Skenario 1, akan dilakukan pengujian untuk melihat perilaku model terhadap perubahan
nilai waktu setup. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
kenaikan waktu setup terhadap jumlah batch dan nilai lateness maksimum.
Yang berbeda adalah variasi waktu
setup nya.
-
Pada
Skenario 2, akan dilakukan pengujian untuk melihat perilaku model terhadap perubahan
nilai waktu proses common component. Pengujian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh kenaikan waktu proses common component terhadap
jumlah batch dan nilai lateness maksimum . yang berbeda adalah
variasi waktu proses common component-nya.
-
Pada
Skenario 3, akan dilakukan pengujian untuk melihat perilaku model terhadap
kenaikan jumlah job. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh kenaikan jumlah job terhadap jumlah batch dan nilai lateness
maksimum.
Pengujian model
dilakukan dengan menggunakan program bantu Visual Basic Application
(VBA) for Excel dan
dijalan pada Personal Computer Intel Pentium Core Duo dengan RAM 1
GB pada sistem Microsoft
Window XP.
4. KESIMPULAN
Model
penjadwalan job pada flowshop-4-stage untuk proses
fabrikasi dan perakitan yang dikembangkan pada penelitian ini bekerja dalam dua
tahap yaitu proses sequencing dan proses batching. Algoritma yang
diusulkan bukan merupakan algoritma optimal karena proses penjadwalan yang
tidak dijamin optimal, meskipun proses batching dapat menghasilkan
ukuran batch optimal. Model yang diusulkan tidak bisa dibandingkan
dengan model lain karena model yang telah ada mempunyai karakteristik tidak
komparatif. Perilaku model menunjukkan sifat sebagai berikut:
jika waktu setup diperbesar, maka
jumlah batch makin kecil. Selain itu, jika waktu proses common
component diperbesar, maka jumlah batch makin besar dan jika jumlah job
makin besar, maka jumlah batch makin besar.
Pengembangan
yang dapat dilakukan berbasis penelitian ini adalah pengembangan model untuk flowshop
mesin. Pengembangan yang mengakomodasi kondisi sebuah produk terdiri lebih
dari 1 unit common component dan 1 unit unique component; dan
pengembangan terhadap metode pemecahan masalah menggunakan algoritma
metaheuristik seperti algoritma genetik, simulated annealing dan greedy
randomized adaptive search procedure (GRASP).
DAFTAR PUSTAKA
Bukchin, J.,
Tzur, M., and Jaffe, M., 2002. “Lot Splitting to Minimize Average Flow-Time in
a
Two-Machine
Flow-Shop.” IIE Transactions, Vol. 34, pp. 953–970.
Chan, D., and
Bedworth, D. D., 1990. “Design of Scheduling Systems for Flexible Manufacturing
Cells.” International
Journal of Production Research, Vol. 28, pp. 2037– 2049.
Cheng, T. C. E.,
and Wang, G., 1998. “Batching and Scheduling to Minimize the Makespan in the
Two Machine
Flowshop.” IIE Transactions, Vol. 30, pp. 447-453.
Cheng, T. C. E.,
and Wang, G., 1999. “Scheduling the Fabrication and Assembly of Components
in a Two-Machine
Flowshop.” IIE Transactions, Vol. 31, pp. 135-143.
Halim, A. H.,
dan Cahya, B. I., 1999. “Model Overlapping pada Flowshop-4-Stage
yang
Memproses
Multi-Item.” Proceeding Seminar Sistem Produksi IV, Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)



